Jumat, 01 Juni 2012

sputum

Diposting oleh d'putri di 23.36

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
1.1.    Sputum merupakan bahan yang digunakan sebagai salah satu sampel pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa berbagai macam penyakit tertentu.
1.2.    Pemeriksaan sputum merupakan salah satu pemeriksaan utama khususnya untuk penyakit di paru-paru dan sekitarnya yang dapat dideteksi dengan sputum.
1.3.    Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi karena kondisi sputum memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri.
1.4.   Pemeriksaan sputum juga dapat mendiagnosa apakah suatu pengobatan dapat berhasil atau berjalan dengan lanacar maupun sebaliknya.
1.5.   Pengetahuan tentang pemeriksaan sputum dan hal-hal yang berkaitan dengannya sangat diperlukan oleh seorang analis laboratorium untuk meningkatkan kompetensinya.
2.      Tujuan
2.1.    Untuk meningkatkan wawasan penulis dan pembaca.
2.2.    Untuk meningkatkan kompetensi keahlian, ketrampilan, dan pengetahuan seorang analis kesehatan khusunya dalam bidang kimia klinik dengan topik sputum, pemeriksaannya, dan hal-hal yang bersangkutan dengannya.
2.3.   Untuk menunaikan  salah satu tugas yang diberikan.







BAB II
ISI


1.      Pengertiam Sputum
1.1.   Sputum , dahak atau riak adalah secret yang dikeluarkan dan berasal dari bronchi,bukan bahan yang berasal dari tenggorokan, hidung, ataupun mulut. (Gandasoebrata)
1.2.   Bbahan yang dikeluarkan dari paru, bronchus, dan trachea melalui mulut. Biasanya juga disebut dengan expectoratorian. (Dorland)
1.3.   Dahak adalah materi yang dikeluarkan dari saluran pernapasan, seperti lendir atau dahak , dicampur dengan air liur , yang kemudian dapat meludah dari mulut. (Wikipedia.org)
Perbedaan  ini hendaknya dijelaskan kepada orang  lain yang dahaknya akan dieriksa. Sering sekali pemeriksaan sputum menjadi tanpa arti karena sampel yang diberikan kepada laboratorium bukannya sputum sejati.
2.      Proses terbentuknya
Orang dewasa normal bisa memproduksi mukus  sejumlah 100 ml dalam saluran napas setiap hari. Mukus ini digiring ke faring dengan mekanisme pembersihan silia dari epitel yang melapisi saluran pernapasan. Keadaan abnormal produksi mukus yang berlebihan (karena gangguan fisik, kimiawi, atau infeksi yang terjadi pada membran mukosa), menyebabkan proses pembersihan tidak berjalan secara normal, sehingga mukus ini banyak tertimbun. Bila hal ini terjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus akan dikeluarkan dengan tekanan intrathorakal dan intraabdominal yang tinggi. Dibatukkan, udara keluar dengan akselerasi yg cepat beserta membawa sekret mukus yang tertimbun tadi. Mukus tersebut akan keluar sebagai sputum.
Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistensinya, karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri.(Price Wilson)
3.      Klasifikasi sputum
3.1.   Klasifikasi sputum dan kemungkinan penyebabnya menurut Price Wilson
·         Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian bawah.
·         Sputum banyak sekali dan purulen kemungkinan  proses supuratif (eg. Abses paru)
·         Sputum yg terbentuk perlahan dan terus meningkat kemungkinan tanda bronkhitis/ bronkhiektasis.
·         Sputum kekuning-kuningan kemungkinan proses infeksi.
·         Sputum hijau kemungkinan proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dlm sputum. Sputum hijau ini sering ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi.
·         Sputum merah muda dan berbusa kemungkinan tanda edema paru akut.
·         Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih kemungkinan tanda bronkitis kronik.
·         Sputum berbau busuk kemungkinan tanda abses paru/ bronkhiektasis. (Price Wilson)
3.2.   Klasifikasi sputum
·         Berdarah atau  Hemoptisis, sering ditemukan pada tuberculosis
·         Rusty berwarna - biasanya disebabkan oleh pneumokokus bakteri (dalam pneumonia)
·         Bernanah - mengandung nanah. Warna dapat memberikan petunjuk untuk pengobatan yang efektif pada pasien bronkitis kronis.
·         Warna (mukopurulen) berwarna kuning-kehijauan menunjukkan bahwa pengobatan dengan antibiotik dapat mengurangi gejala.
·          Warna hijau disebabkan oleh Neutrofil myeloperoxidase .
·          Berlendir putih, susu, atau buram sering berarti bahwa antibiotik tidak akan efektif dalam mengobati gejala. Informasi ini dapat berhubungan dengan adanya infeksi bakteri atau virus, meskipun penelitian saat ini tidak mendukung generalisasi itu.
·         Berbusa putih - mungkin berasal dari obstruksi atau bahkan Edema(Wikipedia.org)
4.      Indikasi pemeriksaan
Indikasi pemeriksaan suputum adalah untuk mengetahui adanya infeksi penyakit tertentu seperti pneumonia dan TBC

5.      Pengambilan sampel Sputum
Sebelum mengeluarkan sputum, mintalah penderita untuk berkumur  terlebih dahulu. Jika hanya sputum sewaktu saja yang dikehendaki, sputum pagilah terbaiknya. Adakalanya diperlukan sampel kumpulan yaitu sampel 12 jam atau 24 jam.
Sputum sewaktu ditampung dalam wadah bermulut lebar seperti cawan petri, botol bermulut    lebar, karton sputum dsb. Harus dijaga agar jangan sampai  wadah tersebut dicemari oleh  bagian luarnya, sputum harus selalu dipandang sebagai materi yang infeksius.
Wadah kaca hendaknya disterilkan dalam autoklaf. Karton sputum harus dibakar.  Meja tempat bekerja danmikroskop sebaiknya disterilkan dengan Lysol 10%. (Gandasoebrata)


6.      Pemeriksaan Sputum
6.1.   Makroskopis

6.1.1.      Volume
Orang yang  sehat tidak mengeluarkan sputum kalauoun ada jumlahnya hany sedikit sekali sehingga tdak dapat diukur. Volume sputum yang dikeluarkan dipengaruhi oleh penyakit yang diderita juga stadium penyakitnya.  Jumlah yang besar yaitu lebih dari 100ml/24 jam, mungkin melebihi  500 ml ditemukan pada edema pulmonum,  abses paru-paru bronchiectasi, tuberculosis pulmonum yang lanjut dan pada abses yang pecah menembus paru-paru.

6.1.2.      Bau
Syarat pemeriksaan : harus diuji dalam keadaan segar karena sputum yang dibiarkan beberapa lama akan  busuk.
Bau busuk pada sputum segar didapat pada ganggrena dan abses pulmonum, pada tumor yang mengalami nekrosis dan pada empyema yang menembus ke bronci. Kalau abses di bawah diafragma (subphrenik) menembus ke atas akan ditemukan bau seperti tinja.

6.1.3.      Warna
Warna sputum berbeda-beda tergantung stadium penyakit yang diderita oleh penderita.
·         Abu-abu atau kuning      :  pus dan sel epitel
·         Merah                             :  perdarahan segar
·         Merah coklat                   : darah tua dan didapat pada permulaan pneumonia                                                                                              lobaris, pada gangren dll
·         Hitam                              : debu yang masuk jalan pernapasan
Jika ada warna merah yang melapisi darah perhatikan juga paa darah itu bercampur baur dengan dahak, atau hanya melapisi secara tidak merata [ada bagian luarnya saja dan apakah darah tersebut berbusa dan muda warnanya. Ciri-ciri itu mungkin memberi petunjuk kepada loklisasi perdarahan.
6.1.4.      Konsistensi
   Ciri-ciri ini  juga dipengaruhi oleh penyakit dan stadiumnya.
·         Sereus : edema pukmonum, dahak mucoid pada bronchitis, asma, pneumonia lobaris pada stadium tertentu
·         Purulent : abses , brinchiectasi, stadium terakhir bronchitis, dll.
·         Seropurulent
·         Mucopurulent
·         Serohemoragik


6.1.5.      Unsur-unsur tertentu
Untuk mencari unsur-unsur khusus dalam sputum tuanglah sputum itu ke dalam cawan petri hingga menyusun lapisan tipis yang diteliti terhadap latar belakang hitam dengan memakai lensa pembesar. Perhatiikan adanya :
a.       Butir keju, yaitu potongan – potongan kecil berwarna kuning yang berasal dari jaringan nekrotik, didapat ada tuberculosis pulmonum, gangrena abses dan pada actinomycosis
b.      Uliran spiral Cursman : bentuk kuning berulit yang sering dilihat benang pusat. Didapat pada asma bronchiale.
c.       Tuanngan bronchi. Bahan tuangan itu adalah fibrin, besarnya tergantung pad besarnya bronchus tempaqt pembentukannya. Didapat pada bronchitis fibrinosa dan kadang-kadang pada pneumonia.
d.      Sumbat Dittrich, yaitu benda kuning putih yang dibentuk dalam bronci atau bronchioli. Ditemukan pada asma bronchiale, bronchitis dan bronchiectasi. Sumbat Dittrich berbeda dari tuangan bronchi karena ia tidak tersusun dari fibrin tetapi dari sel-sel rusak, lemak dan bakteri. Dalam praktek sumbat Dittrich sukar dibedakan dari tunagan fibrin.
6.2.   Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan sediaan natif dan ssdiaan pulasan.
6.2.1.      Sediaan Natif
Pilihlah sebagian dari sputum yang mengandung unsur-unsur, taruhlah di atas objek dan tutuplah dengan kaca penutup. Gunakanlah objektif 10x dan 40x untuk pemeriksaan ini dan periksakan :
1.      Leukosit dan eritrosit
2.      Sel-sel yang mengandung pigmen :
a.       Heart failure cells, yaitu sel besar, berinti satu yang mengandung hemisiderin berupa butir kuning. Untuk membutikan adanay hemosiderin itu boleh dipakai reaksi prusian blue, kepadda sediaan diteteskan 1 tetes larutan K ferrosianida, biarkan beberapa menit kemudian diberikab setetes larutan HCl 5 %. Butir hemosiderin menjadi biru. Sel ssemacam itu didapat pada kongesti dalam paru-paru (decompensatio cordis, stevonis valvue mitralis) dan juga pada infract paru-paru.
b.      Sel-sel yang brisi karbon berbutir-butir didapat pada antharacosis dan pada orang-orag yang sangat banyak merokok.
3.      Serat elastik : ialah serat halus, agak kuning, berombak-rombak dengan ujungnya terbelah. Adanya serat-serat itu menandakan parenchym paru-pari sedang dirombak. Jika sekiranya dianggap penting untu menemukannya, sejumlah sputum diencerkan denga nair dulu, kemudian larutan NaOH 10-20% untuk mencairkannya kemudian bahan itu dipusing dan sedimennya diperiksa lagi.
4.      Uliran Curschmann
5.      Kristal-kristal. Biasanya tidak banyak artinya. Yang mungkin didapat ialah kristal Charcit-Leyden, kristal asam lemak, cholesterol, leucine, tyrosine dan hematoidin.
6.      Fungi. Untuk identifikasi selanjutnya diperlukan pemriksaan khusus seperti biakan. Bagian yang dapat dikenal denagn memeriksa  sediaan natif ialah mycelium,hypae, atau sporanya.
7.      Sel epitel, leukosit dan  sel eosinofil  lebih baik dinyatakan dengan sediaan pulasan.
6.2.2.      Sediaan pulasan
Pulasan yang dipakai ialah menurut Wright atau Giemsa, pulasan Gram dan pulasan terhadap kuman tahan asam. Yang penting ialah pulasan Ziehl-nelsen dan pulasan Gram.

Agar pemeriksaan gram bermakna, sebaikny asputum yang diperoleh dicuci bebrapa kali dukuk dengan larutan garam steril supaya kuman kuman yang hanya melekat pada unsur-unsur sputum dan yang tidak berasal dari bronchi menjadi hanyut. Hanya jika pada pulasan gram dilihat satu-dua macam kuman saja, hasil pemeriksaan bakterioskopi ittu mempunyai makna.

Jika tidak hendak memakai sputum yang dipekatkan terlebih dulu untuk mencari batang tahan asam, carilah sebagian dai sputum itu yang berkeju atau yang purullent untuk dijadikan sediaan tipis. Cara langsung itu kurang baiak dari cara pemekatan boleh dikerjakan sbb :
1.      Taruhlah 2-4 ml sputum dalam tabung sentrifugr dantambahlah sama banyaknya larutan NaOH 4%
2.      Kocoklah tabung itu selama 5-10 menit atau sampai saat sputum telah mencair sempurna.
3.      Pusinglah tabung itu sekama 15-30 menit pada 3000 rpm.
4.      Buanglah cairan atas dan tambhakanlah 1 tetes infdikator fenol merah kepada sediment yang masih ada dalam tabung itu, warnanya menjadi merah.
5.      Netralkanlah reaksi sediment itu dengan berhati-hait menteskan larutan HCl 2n ke dalam tabung sampai tercapainya warna merah-jambu kekuning-kunigan
6.      Sediment ini selantjutnya dipakai untuk membuat sediaan pulasan(boleh dipakai juga untuk biakan m.tuberculosa dan untuk percobaan marmot). (Gandasoebrata)
7.       Bakteri-bakteri yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan sputum

Tabel 1.1 Bakteri yang dapat ditemukan dalam diagnose sputum
No.
Organisme
Keadaan klinik
Apusan sputum yang diwarnai Gram
1.
Mycobacterium tuberculosa
Penyakit TBC
Gram (-) batang
2.
Streptococcus pneumoniae
Penyakit kardiopulmuoner kronik setelah Infeksi Saluran Pernafasan Atas dan merupakan bagian dari flora normal
Gram (+) diplcoccus
3.
Haemophilus influenzae
Penyakit kardiopulmuoner kronik setelah Infeksi Saluran Pernafasan Atas
Gram (-) coccobasil kecil
4.
Staphylococcus aureus
Penyakit epidemic, influenza, nosokomial
Gram (+) coccus dalam bentuk gumpalan
5.
Klebsiella pneumoniae
Pecandu alcohol, diabetes mellitus, nosokomial
Gram (-) batang yang berenkapsulasi
6.
Escherichia coli
Nosokomial
Gram (-) batang
7.
Pseudomonas aeroginusae
Nosokomial, fibrosis kistik
Gram (-) batang
8.
Neisseria non patogen
Merupakan flora normal nasofaring

9.
Streptococcus alfa hemolitik
Merupakan flora normal nasofaring

10.
Staphylococcus epidermidis
Merupakan flora normal nasofaring

11.
Streptococcus non hemolitik
Merupakan flora normal nasofaring

12.
Bateroides sp
Merupakan flora normal nasofaring

13.
Fusobakterium sp
Merupakan flora normal nasofaring

14.
Moraxella cataarrhalis
Penyakit paru-paru yang tidak nyata, pada manula, tetapi kartikosteroid/imunosuprosif

15.
Pneumocytis carini
AIDS, tetapi

(Mikrobiologi kedoktetan)







BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
1.1  Sputum adalah secret yang dikeluarkan dan berasal dari bronchi,bukan bahan yang berasal dari tenggorokan, hidung, ataupun mulut.
1.2  Pemeriksaan sputum digunakan untuk mengetahui infeksi tertentu seperti pneumonia dan TBC
1.3  Pengambilan sampel sputum harus dilakukan sesteril mungkin menghindati kontaminasi dengan bakteri luar. Lebih baiknya menggunakan sputum pagi untuk pemeriksaan.
1.4  Pemeriksaan sputum meliputi pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan makroskopis yaitu : volume, bau, warna, konsistensi, dan unsure-unsur tertentu. Pemeriksaan mikroskopis dapat dilakuakan dengan sediaan natif dan sediaan pulasan.
1.5  Bakteri yang dapat ditemukan dalam sputum antara lain flora-flora normaol dalam mulut. Jika ditemukan Mycobacterium tuberculosa merupakan spesifikasi dari penyakuit TBC. Ditemukannya kuman-kuman penyebab pneumonia merupakan salah satu penanda dari penakit pneumonia.
2.      Saran
2.1  Sputum dan pemeriksannya harus dikuasai benar oleh seorang tenaga analis  laboratorium.
2.2  Cara pengambilan sampel yang benar sangat diperlukan karena sering terjadi kesalahan dalam pegambilan sampel.











DAFTAR  PUSTAKA
Dorland. 2011. Sputum.http://en.wikipedia.org/wiki.Sputum.
Gandasoebrata. 1984. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.
Jawetz, Melnick, Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta : Penrbit Buku Kedokteran EGC.
Wilson,Prise. 2011. Sputum.http://en.wikipedia.org/wiki.Sputum.






1 komentar:

Ita Sari Tarigan mengatakan...

baik sekali paparannya, menambah pengetahuan.
Terimakasih

Posting Komentar

 

phut_phut Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea